ung 12/26/13 ~ NurSyamSinar A

HIDUP BEGITU INDAH

TUGAS ITU SULIT TAPI LEBIH SULIT MEMIKIRKANMU

DOSENKU TERCINTA

TAK TAHU MENGAPA MEMIKIRKANMU SAJA MEMBUAT HATIKU DAG DIG DUG

REGENBOGEN 2012

MENGGAPAI MIMPI BERSAMA AKAN LEBIH INDAH

KEHIDUPAN CINTAKU BEGITU MEMBINGUNGKAN

SEPERTI SEBUAH LONCENG YANG KETIKA BERBUNYI AKAN MENGELUARKAN GELOMBANG BUNYI MENGGETARKAN JIWA

INDAH ADALAH KATA YANG SEMPURNA BUATMU

PERJALANAN MENUJU SEBUAH PENCAPAIAN AKAN TERASA MEMPESONA KETIKA DI DALAMNYA KESULITAN MENGHAMPIRI

Kamis, 26 Desember 2013

Sistem Pendidikan di Jerman


Pendidikan PraPerguruan Tinggi

Berbeda dengan di Indonesia yang menganut sistem pendidikan tiga jenjang SD-SLTP-SLTA, Jerman hanya memiliki dua jenjang pendidikan Pra Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dasar (Grundschule) dan pendidikan lanjutan (Gymnasium, Realschule atau Berufschule).

Cara Menghilangkan virus Autorun.inf


Cara Menghilangkan virus Autorun.inf - cara menghilngkan virus "autorun.inf", sudah sekarang kita gak usah basa-basi langsung aja ikuti cara dibawah ini. langkah ini cukup praktis untuk menghilangkan file : autorun.inf yang tidak terdeteksi :

Linguistik Struktural

A.    FERDINAND DE SAUSSURE " ALIRAN STRUKTURAL"
Aliran struktural muncul pada awal abad ke XX atau tepatnya tahun 1916. tahun tersebut menjadi tahun monumental lahirnya aliran struktural, sebab pada tahun itu terbit sebuah buku berjudul ”Course de Linguistique Generale” karya Saussure yang berisi pokok-pokok teori struktural yang jua sebagai pokok-pokok pikiran linguistik modern. Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkap strukturalisme. Membaca pemikiran Saussure tentang strukturalisme, seolah-olah kita diajak untuk berdialog sistemik yang dapat mengantarkan kita pada wilayah linguistik dan gramatikal. Mengingat, landasan filosofis yang digagas Saussure lebih menekankan pada aspek kajian bahasa yang merupakan nilai filosofis terpenting dalam memahami arus strukturalisme. Dalam pandangan Steven Best dan

Linguistik Tradisional

Aliran tradisional boleh dikatakan sebagai aliran linguistik yang tertua. Istilah tradisional sering dipertentangkan dengan istilah structural sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional dan tata bahasa structural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.
Teori tradisional berdasarkan pola pemikiran secara filosofis. Dari latar belakang sejarahnya, kita ketahui bahwa munculnya teori ini bermula dari Plato dan Aristoteles yang kita kenal sebagai filosof besar bangsa Yunani.

Sejarah Perkembangan Linguistik


1.      Sejarah dan Perkembangan Linguistik
 Sejarah dan perkembangan linguistik terbagi menjadi lima periode utama yaitu

a.       Zaman Yunani Kuno (Abad ke-5 S.M)
Dengan ciri dan dasar filsafat yang melekat erat pada pemikir-pemikir pada zaman ini. yaitu membahas tentang asal usul bahasa yang digunakan oleh umat manusia, dan dalam masa ini fokus kajiannya adalah sebagai berikut:

Klausa

Pengerrtian Klausa
 
Kausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada kom­ponen, berupa kata atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek, sebagai objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10) mengatakan bahwa klausa adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada kalimat yang lebih besar.”
Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat.
 
Jenis-jenis Klausa 

1.  Klausa kalimat majemuk setara
Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contohnya sebagai berikut.
Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.
Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.

2.  Klausa kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut.
Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia.
Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesia merupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).

3.  Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini.
  1. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi.
Kalimat di atas terdiri dari tiga klausa yaitu.
1)      Dia pindah ke Jakarta (klausa utama)
2)      Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan)
3)      Ibunya kawin lagi (klausa sematan)
  1. Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat)
  2. Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)

Frasa

  1. Pengertian Frase
        Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi satah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.[11]
Frase tidak memiliki makna baru, melainkan makna sintaktik atau makna gramatikal bedanya dengan kata majemuk yaitu kata majemuk sebagai komposisi yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna. Perhatikan contoh beriku

Pengertian Sintaksis

1.Pengertian dan Sejarah Sintaksis
  1. Pengertian Sintaksis
Ø  Kridalaksana (2001:199) menyatakan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dan kata, atau antara kata dan satuan – satuan yang lebih besar, atau antar satuan yang lebuih besar itu dalam bahasa.
Ø  Ramlan (1981) menyatakan bahwa sintaksis ialah cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk – beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase.
Ø  Jadi sintaksis menurut kelompok kami adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat.
Apabila dilihat dari unsur terkecilnya, yaitu kata, kata adalah unsur pembentuk frase, frase adalah unsur pembentuk klausa, klausa adalah unsur pembentuk kalimat, kalimat adalah unsur pembentuk wacana. Jadi wacana merupakan satuan terkecil dalam kajian sintaksis. Oleh karena itu, kata sering disebut sebagai satuan bahasa terkecil yang bebas dan bermakna.
 
1. Fungsi Sintaksis
Fungsi kajian sintaksis terdiri dari beberapa komponen. Diantaranya adalah subjek, predikat, objek, pelengkap dan keterangan. Dalam blog http://zieper.multiply.com/memperjelas tentang hakikat dari subjek dan predikat, objek dan pelengkap, serta keterangan. Semuanya akan dijelaskan sebagai berikut.
 
    a. Subjek dan Predikat.
  1. Subjek merupakan bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’.
  2. Subjek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.
  3. Jika diubah menjadi kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel -kah. Predikat dapat diberi partikel -kah.
Contoh dari kalimat yang memiliki subjek dan predikat adalah, ‘Adik sedang makan’. ‘Adik’ menduduki fungsi subjek, sedangkan ’sedang makan’ menduduki fungsi predikat.
‘Adik(S) sedang makan(P).’
 
     b. Objek dan Pelengkap
  1. Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomi
  2.  Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semi-transitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif(tidak memerlukan objek). 
  3. Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.
Berdasar ada tidaknya objek kalimat dibedakan menjadi kalimat transitif dan intransitif.  Kalimat transitif adalah kalimat yang memerlukan objek. Sedangkan kalimat intransitif merupakan kalimat yang tidak memerlukan objek.
Contoh kalimat yang memiliki objek yaitu ‘Kakak sedang memasak sayur-mayur’. ‘Kakak’ berfungsi sebagai subjek, sedang memasak menduduki fungsi predikat dan ’sayur-mayur’ merupakan objek.
‘Kakak(S) sedang memasak(P) sayur-mayur(O).’
Untuk kalimat yang memiliki pelengkap adalah ‘Paman berjualan sayuran’. Subjek diduduki oleh kata ‘Paman’, ‘berjualan’ menduduki fungsi predikan dan ’sayuran’ sebagai pelengkap.
‘Paman(S) berjualan(P) sayuran(Pel).’
 
        C. Keterangan. 
  1. Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap. 
  2. Berupa frasa nomina, preposisi, dan konjungsi. 
  3. Mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap.
Contoh kalimat yang memiliki keterangan adalah ‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar induk’. ‘Kemarin’ dan ‘di pasar induk’ merupakan keterangan, untuk ‘Pak Anwar’ menduduki fungsi subjek. Kata ‘membeli’ merupakan predikat dan ‘buah-buahan’ adalah fungsi objek.
‘Kemarin(Ket), Pak Anwar(S) membeli(P) buah-buahan(O) di pasar induk(Ket)’.

Sumber : http://hendrysetiawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-dan-sejarah-sintaksis.html