Kamis, 26 Desember 2013
Linguistik Struktural
A.
FERDINAND DE SAUSSURE " ALIRAN STRUKTURAL"
Aliran struktural muncul pada
awal abad ke XX atau tepatnya tahun 1916. tahun tersebut menjadi tahun
monumental lahirnya aliran struktural, sebab pada tahun itu terbit sebuah buku
berjudul ”Course de Linguistique Generale” karya Saussure yang berisi
pokok-pokok teori struktural yang jua sebagai pokok-pokok pikiran linguistik
modern. Ferdinand de Saussure yang dikenal sebagai bapak strukturalisme,
walaupun bukan orang pertama yang mengungkap strukturalisme. Membaca pemikiran
Saussure tentang strukturalisme, seolah-olah kita diajak untuk berdialog
sistemik yang dapat mengantarkan kita pada wilayah linguistik dan gramatikal.
Mengingat, landasan filosofis yang digagas Saussure lebih menekankan pada aspek
kajian bahasa yang merupakan nilai filosofis terpenting dalam memahami arus
strukturalisme. Dalam pandangan Steven Best dan
Linguistik Tradisional
Aliran tradisional boleh dikatakan sebagai aliran linguistik
yang tertua. Istilah tradisional sering dipertentangkan dengan istilah
structural sehingga dalam pendidikan formal ada istilah tata bahasa tradisional
dan tata bahasa structural. Tata bahasa tradisional menganalisis bahasa
berdasarkan filsafat dan semantik, sedangkan tata bahasa struktural berdasarkan
struktur atau ciri-ciri formal yang ada dalam suatu bahasa tertentu.
Teori
tradisional berdasarkan pola pemikiran secara filosofis. Dari latar belakang
sejarahnya, kita ketahui bahwa munculnya teori ini bermula dari Plato dan
Aristoteles yang kita kenal sebagai filosof besar bangsa Yunani.
Sejarah Perkembangan Linguistik
1.
Sejarah dan Perkembangan
Linguistik
Sejarah dan
perkembangan linguistik terbagi menjadi lima periode utama yaitu.
a.
Zaman Yunani Kuno (Abad ke-5 S.M)
Dengan ciri dan dasar
filsafat yang melekat erat pada pemikir-pemikir pada zaman ini. yaitu membahas
tentang asal usul bahasa yang digunakan oleh umat manusia, dan dalam masa ini
fokus kajiannya adalah sebagai berikut:
Klausa
Pengerrtian Klausa
1. Klausa kalimat majemuk setara
Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contohnya sebagai berikut.
Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.
Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.
2. Klausa kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut.
Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia.
Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesia merupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).
3. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini.
1) Dia pindah ke Jakarta (klausa utama)
2) Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan)
3) Ibunya kawin lagi (klausa sematan)
Kausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi
predikatif. Artinya, di dalam konstruksi itu ada komponen, berupa kata atau
frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai subjek,
sebagai objek, dan sebagai keterangan. Badudu (1976 : 10)
mengatakan bahwa klausa adalah “sebuah kalimat yang merupakan bagian daripada
kalimat yang lebih besar.”
Sebuah konstruksi disebut kalimat kalau kepada konstruksi itu diberikan
intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, konstruksi nenek mandi baru dapat
disebut kalimat kalau kepadanya diberi intonasi final kalau belum maka masih
berstatus klausa.Tempat klausa adalah di dalam kalimat.
Jenis-jenis Klausa
Dalam kalimat majemuk setara (koordinatif), setiap klausa memiliki kedudukan yang sama. Kalimat majemuk koordinatif dibangun dengan dua klausa atau lebih yang tidak saling menerangkan. Contohnya sebagai berikut.
Rima membaca kompas, dan adiknya bermain catur.
Klausa pertama Rima membaca kompas. Klausa kedua adiknya bermain catur. Keduanya tidak saling menerangkan.
2. Klausa kalimat majemuk bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat dibangun dengan klausa yang berfungsi menerangkan klausa lainnya. Contohnya sebagai berikut.
Orang itu pindah ke Jakarta setelah suaminya bekerja di Bank Indonesia.
Klausa orang itu pindah ke Jakarta sebagai klausa utama (lazim disebut induk kalimat) dan klausa kedua suaminya bekerja di Bank Indonesia merupakan klausa sematan (lazim disebut anak kalimat).
3. Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat
Klausa gabungan kalimat majemuk setara dan bertingkat, terdiri dari tiga klausa atau lebih. Contohnya seperti berikut ini.
- Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi.
1) Dia pindah ke Jakarta (klausa utama)
2) Setelah ayahnya meninggal (klausa sematan)
3) Ibunya kawin lagi (klausa sematan)
- Dia pindah ke Jakarta setelah ayahnya meninggal. (Kalimat majemuk bertingkat)
- Ayahnya meninggal dan ibunya kawin lagi. (Kalimat majemuk setara)
Frasa
- Pengertian Frase
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan
kata yang bersifat nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang
mengisi satah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.[11]
Frase tidak memiliki makna baru, melainkan makna sintaktik atau makna
gramatikal bedanya dengan kata majemuk yaitu kata majemuk sebagai komposisi
yang memiliki makna baru atau memiliki satu makna. Perhatikan contoh beriku
Pengertian Sintaksis
1.Pengertian
dan Sejarah Sintaksis
- Pengertian Sintaksis
Ø Kridalaksana
(2001:199) menyatakan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari
pengaturan dan hubungan antara kata dan kata, atau antara kata dan satuan –
satuan yang lebih besar, atau antar satuan yang lebuih besar itu dalam bahasa.
Ø Ramlan
(1981) menyatakan bahwa sintaksis ialah cabang ilmu bahasa yang membicarakan
seluk – beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase.
Ø Jadi sintaksis menurut kelompok kami adalah cabang
linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat
yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat.
Apabila dilihat dari unsur terkecilnya, yaitu kata, kata adalah
unsur pembentuk frase, frase adalah unsur pembentuk klausa, klausa adalah unsur
pembentuk kalimat, kalimat adalah unsur pembentuk wacana. Jadi wacana merupakan
satuan terkecil dalam kajian sintaksis. Oleh karena itu, kata sering disebut
sebagai satuan bahasa terkecil yang bebas dan bermakna.
1. Fungsi Sintaksis
Fungsi kajian
sintaksis terdiri dari beberapa komponen. Diantaranya adalah subjek, predikat,
objek, pelengkap dan keterangan. Dalam blog http://zieper.multiply.com/memperjelas tentang hakikat dari subjek dan predikat,
objek dan pelengkap, serta keterangan. Semuanya akan dijelaskan sebagai
berikut.
a.
Subjek dan Predikat.
- Subjek merupakan bagian yang diterangkan predikat. Subjek dapat dicari dengan pertanyaan ‘Apa atau Siapa yang tersebut dalam predikat’. Sedangkan predikat adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek. Predikat dapat ditentukan dengan pertanyaan ‘yang tersebut dalam subjek sedang apa, berapa, di mana, dan lain-lain’.
- Subjek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina. Sedangkan predikat bisa berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, atau pun preposisi.
- Jika diubah menjadi kalimat tanya, subjek tidak dapat diberi partikel -kah. Predikat dapat diberi partikel -kah.
Contoh dari kalimat
yang memiliki subjek dan predikat adalah, ‘Adik sedang makan’. ‘Adik’ menduduki
fungsi subjek, sedangkan ’sedang makan’ menduduki fungsi predikat.
‘Adik(S) sedang makan(P).’
b. Objek dan Pelengkap
- Objek berupa frasa nomina atau pengganti frasa nomina, sedangkan pelengkap berupa frasa nomina, verba, adjektiva, numeralia, preposisi, dan pengganti nomi
- Objek mengikuti predikat yang berupa verba transitif(memerlukan objek) atau semi-transitif dan pelengkap mengikuti predikat yang berupa verba intransitif(tidak memerlukan objek).
- Objek dapat diubah menjadi subjek dan pelengkap tidak dapat diubah menjadi subjek.
Berdasar ada tidaknya
objek kalimat dibedakan menjadi kalimat transitif dan intransitif.
Kalimat transitif adalah kalimat yang memerlukan objek. Sedangkan kalimat
intransitif merupakan kalimat yang tidak memerlukan objek.
Contoh kalimat yang
memiliki objek yaitu ‘Kakak sedang memasak sayur-mayur’. ‘Kakak’ berfungsi
sebagai subjek, sedang memasak menduduki fungsi predikat dan ’sayur-mayur’
merupakan objek.
‘Kakak(S) sedang
memasak(P) sayur-mayur(O).’
Untuk kalimat yang
memiliki pelengkap adalah ‘Paman berjualan sayuran’. Subjek diduduki oleh kata
‘Paman’, ‘berjualan’ menduduki fungsi predikan dan ’sayuran’ sebagai pelengkap.
‘Paman(S) berjualan(P)
sayuran(Pel).’
C. Keterangan.
- Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan subjek, predikat, objek atau pelengkap.
- Berupa frasa nomina, preposisi, dan konjungsi.
- Mudah dipindah-pindah, kecuali diletakkan diantara predikat dan objek atau predikat dan pelengkap.
Contoh kalimat yang
memiliki keterangan adalah ‘Kemarin, Pak Anwar membeli buah-buahan di pasar
induk’. ‘Kemarin’ dan ‘di pasar induk’ merupakan keterangan, untuk ‘Pak Anwar’
menduduki fungsi subjek. Kata ‘membeli’ merupakan predikat dan ‘buah-buahan’
adalah fungsi objek.
‘Kemarin(Ket), Pak
Anwar(S) membeli(P) buah-buahan(O) di pasar induk(Ket)’.Sumber : http://hendrysetiawan.blogspot.com/2012/12/pengertian-dan-sejarah-sintaksis.html












